Dari judulnya "Si Pitung" kita pasti udah gak asing lagi, entah itu tau ceritanya atau cuma sekedar pernah dengar aja.
Prosa merupakan salah satu karya sastra Indonesia. Prosa itu macamnya banyak, salah satunya hikayat. Hikayat itu adalah cerita kehidupan orang gitu misalnya para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, raja-raja, dll yang memiliki kesaktian dan kekuatan luar biasa, walaupun kesaktian itu terkadang kurang masuk akal. Si Pitung merupakan salah satu contoh dari hikayat tersebut.
Berikut ini kisah Si Pitung
Suatu sore, Pak Piun dan Bu Pinah sedang duduk di balai-balai bambu.
Beberapa hari lagi Bu Pinah akan melahirkan, Pak Piun bahagia,
sambil menggumamkan doa. Padi yang baru saja dipanen dirampas oleh
centeng-centeng Babah Liem. Babah Liem adalah tuan tanah yang ada di kampung
Rawabelong, dia mengangkat centeng-centeng dari pribumi untuk menagih pajak
yang digunakan untuk membayar ke Belanda. Bu Pinah pun melahirkan anaknya dan
diberi nama Pitung. Si Pitung terdidik menjadi anak yang sopan, suka menolong dan
sholeh. Si Pitung belajar agama dan silat pada Haji Naipin. Haji Naipin
mencurahkan semua ilmunya kepada Pitung, bahkan ia diberi ilmu pancasona, yaitu
ilmu kebal senjata, ilmu itu digunakan untuk membela dari kezaliman.
Suatu ketika Pitung melihat kesewenangan
centeng-centeng Babah Liem terhadap tetangganya. Pitung ingin menolong, tetapi
dilarang oleh ibunya. Di hari lain Pitung melihat kejadian itu lagi, Pitungpun
melawan mereka, akhirnya Pitung dapat mengalahkan mereka. Suatu hari Pak Piun
menyuruh Pitung menjual kambing ke pasar. Ternyata, si Pitung dibuntuti oleh
seorang centeng. Centeng mengawasi ketika Pitung mengantongi uang di saku.
Pitung singgah di mushola, ketika ia melepas baju untuk mandi dan berwudhu,
uang tersebut diambil oleh centeng. Di rumah ia dimarahi oleh ayahnya, dan
Pitung kembali ke pasar untuk mencari orang itu dan menemukannya sedang
berkumpul dengan teman-temanya di warung kopi. Pitung datang dan menghardik
mereka. Mereka marah dan menyerang Pitung, namun pada akhirnya mereka kalah.
Pitung memutuskan untuk membela rakyat jelata
dan membentuk kelompok untuk merampok harta orang kaya yang akan dibagikan
kepada orang yang kekurangan. Orang-orang kaya pun tidak tentram. Schout Heyne,
Kontrolir Kebayoran, memerintah untuk mencari tahu keberadaan Pitung. Pitung
pun berpindah-pindah tempat. Sampai akhirnya mereka terjebak dan tertangkap.
Pitung meloloskan diri melalui genteng penjara. Schout memerintah untuk
menangkap Pak Piun dan Haji Naipin, mereka dibui karena tidak mau mengatakan
keberadaan Pitung. Pitung mendengar ayahnya dan gurunya dibui, lalu Pitung
menyerahkan diri. Pitung tetap tidak akan menyerah, walaupun ia sudah
tertangkap. Hal ini menyebabkan Schout Heyne marah bersiap menembak Pitung dan
Pitungpun roboh bersimbah darah.
Pitung dimakamkan beberapa hari kemudian,
banyak rakyat yang mengiringi jenazah. Beberapa bulan kemudian Schout Heyne
dipecat dari jabatan Kontrolilr Kebayoran karena ia telah menembak orang yang
tidak melawan saat ditangkap.
Berdasarkan cerita tersebut dapat diambil banyak amanat dari segi konsepsi ilmu budaya dasar. Diantaranya yaitu:
- Si Pitung digambarkan merupakan manusia yang berkeyakinan teguh, dia yakin bahwa suatu saat nanti dia akan dapat melawan ketidakadilan
- Si Pitung digambarkan memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap sesama
- Si Pitung digambarkan mencoba menegakkan keadilan
- Si Pitung digambarkan sebagai manusia yang suka menolong, shaleh dan sopan.
Sumber:
http://www.gudangnews.info/2012/05/ringkasan-dan-analisis-epos-cerita.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Prosa
v
BalasHapus