Minggu, 21 Juni 2015

Gelisah Nunggu Waktu Buka

Kebetulan banget postingan tugas IBD saya ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadi sebelumnya saya mau mengucapkan
Marhaban Yaa Ramadhan bagi seluruh umat muslim, semoga puasa tahun ini diberikan kelancaran dan berkah dari Allah SWT amiiin
Puasa Ramadhan merupakan suatu kewajiban setiap muslim, karena puasa Ramadhan masuk ke dalam rukun islam yang ke-3.

Waktu puasa berbeda-beda disetiap negaranya, di Indonesia sendiri puasa Ramadhan berlangsung selama 12 jam setiap harinya.
Bagi yang baru pertama mencoba belajar puasa pasti akan sulit jika langsung full seharian berpuasa, maka dari itu biasanya anak-anak / orang yang baru belajar berpuasa dilatih sedikit demi sedikit mulai dari setengah hari-sambung lagi puasanya, begitu seterusnya sampai akhirnya bisa full seharian puasa.

Sesuai judul postingan saya ini "Gelisah Nunggu Waktu Buka" saya mau ngebahas soal kegelisahan kita nunggu waktu buka. Dalam Ilmu Budaya Dasar juga terdapat bahasan tentang Manusia dan Kegelisahan.
Gelisah itu apa sih? Gelisah menurut KBBI yaitu perasaan tidak tentram atau selalu merasa khawatir.
Berarti gelisah nunggu waktu buka itu adalah perasaan khawatir kita atau perasaan harap-harap cemas kita pas lagi nungguin waktu buka. Biasanya kita liat jam nih sambil bilang "Berapa jam lagi ya adzan Maghribnya?" gitu terus padahal waktu bukanya masih lama, semakin diliatin terus jamnya justru malah akan terasa lebih lama sebetulnya. Yang kayak gitu gak cuma anak kecil sih orang dewasa juga gitu (saya sendiri juga suka kayak gitu kadang-kadang hehe), manusiawi kan kalo manusia itu emang punya nafsu salah satunya ya itu tadi buat makan sama minum, biasanya lewat tengah hari sekitar jam 12 siang lebih itu udah mulai berasa tuh, sebut saja itu jam-jam kritis. Tapi justru keimanan kita di uji pada saat-saat seperti itu.

Gelisah nunggu waktu buka sebenarnya bisa diatasi, bisa dengan ngabuburit jalan kemana gitu, atau kalo mau dirumah aja ya cari hiburan misalnya nonton tv, main games, kalo saya pribadi gadget sama internet itu pas banget buat ngelupain jam jadi gak berasa puasanya tau-tau udah mau maghrib haha.
Mungkin bagi yang masih merasa sering gelisah pas nungguin buka bisa nyoba hal-hal yang saya bilang diatas, udah terlalu mainstream sih caranya tapi semoga aja ngebantu nyari inspirasi baru buat ngilangin rasa gelisah pas nungguin buka.


Penelantaran Anak

Belum lama ini kita mendengar kasus penelantaran anak oleh orang tuanya sendiri. Di ketahui sang ayah UP (45) adalah seorang dosen di salah satu Universitas dan istrinya NS (42).
Ironisnya UP dikenal sebagai dosen yang baik di Universitas tempatnya mengajar dan menjadi salah satu dosen favorit mahasiswanya.

UP dan istrinya NS digelandang ke Mapolda Metro Jaya setelah diduga menelantarkan 5 anak di rumahnya di kawasan Citra Gran Cibubur, Jawa Barat. Kasus itu terkuak setelah bocah DA hidup luntang lantung di sekitar kompleks selama sebulan. Dan juga pasutri itu kedapatan sering menggunakan sabu di depan anak-anak mereka.

UP menceritakan bahwa anak laki-laki satu-satunya, DA (8), dirawat oleh ibunya hingga berumur lima tahun. Setelah lima tahun dirawat, DA dikembalikan ke rumahnya di Perumahan Citra Gran Cibubur, Bekasi, Jawa Barat. UP sendiri baru tinggal di sana dengan keluarganya selama kurang lebih satu tahun.

Menurut UP, karena tidak dirawat sejak kecil, maka tidak ada ikatan batin antara dia dengan DA. Ada pun UP dan istrinya memutuskan agar DA dititipkan ke ibu UP atau eyangnya, karena kelahiran DA tidak direncanakan.

"Istri saya ini kan lahiran caesar terus, yang cowok ini kebablasan, jadinya lahir lagi. Ya sudah kita minta titipin ke eyangnya saja," ujar UP.

Selama dirawat oleh ibunya, DA dianggap terlalu dimanja. Sehingga UP menerapkan sikap tegas terhadap DA, berbeda dengan perlakuan dia terhadap keempat anak lain yang perempuan.

Namun dia membantah semua tuduhan bahwa dia menelantarkan, tidak memperbolehkan anaknya pulang, bahkan sampai tidak memberikan makan.

Berdasarkan ilmu budaya dasar terdapat bahasan tentang manusia dan tanggung jawab.
Pada hakikatnya manusia masing-masing memiliki hak dan kewajiban, dimana hak akan terpenuhi dan harus berada dalam konteks yang sesuai dengan hukum yang ada, begitu juga dengan kewajiban. Kewajiban harus dilaksanakan sesuai dengan hukum yang berlaku, kewajiban kita juga termasuk pertanggungjawaban kita atas apa yang telah kita lakukan. Oleh karena itu apapun yang dilakukan manusia baik itu dalam mendapatkan haknya atau pun menunaikan kewajibannya harus dapat di pertanggung jawabkan. 
Seperti pada kasus penelantaran anak tersebut, orang tua seharusnya memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, UP dan istrinya dianggap tidak bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Atas tindakan mereka tersebut mereka dijerat undang-undang Dugaan tindak pidana yang diatur dalam Pasal 77 B Jo Pasal 76 B dan Pasal 80 Jo Pasal 76 C Undang-Undang 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Ancaman hukuman dari pasal berlapis ini di atas lima tahun penjara.

Semoga kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi. Amin.


Sumber:
http://www.tribunnews.com/nasional/2015/05/18/pasutri-yang-telantarkan-anak-di-cibubur-kerap-isap-sabu-di-rumah

Pancasila


Seluruh warga negara Indonesia pasti tahu istilah yang satu ini:
"Pancasila"
Kedudukan Pancasila yaitu sebagai dasar negara Republik Indonesia, Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia, Pancasila sebagai pandangan hidup, Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia, dan Pancasila juga sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia.

Yang mau saya bahas di postingan saya kali ini yaitu Pancasila dengan kedudukannya sebagai pandangan hidup bangsa.

Sebelum itu kita harus tahu dulu, pandangan hidup itu apa sih?
Menurut KBBI, pandangan hidup dapat diartikan sebagai konsep yg dimiliki seseorang atau golongan dalam masyarakat yg bermaksud menanggapi dan menerangkan segala masalah di dunia ini. 

Pancasila sering disebut way of life, berarti pancasila menjadi petunjuk arah seluruh kegiatan dalam berbagai bidang kehidupan guna mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia berfungsi sebagai norma, pegangan hidup, pedoman hidup dan petunjuk arah bagi semua kegiatan hidup dan penghidupan bangsa Indonesia dalam berbagal aspek kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Dengan demikian berarti bahwa semua sikap dan perilaku setiap manusia Indonesia haruslah dijiwai dan merupakan pancaran pengamalan sila-sila Pancasila.

Berdasarkan ilmu budaya dasar, terdapat bahasan manusia dan pandangan hidup. Setiap manusia pasti memiliki pandangan hidupnya masing-masing. Pandangan hidup itu bersifat kodrati karena menentukan masa depan seseorang. 
Pandangan hidup itu tidak timbul seketika atau hanya dalam waktu yang singkat saja, melainkan  melalui proses waktu yang lama dan terus menerus, harus dapat diterima oleh akal sehingga hasil dari pemikiran itu dapat diuji kenyataannya dan diakui kebenarannya.
Begitu juga dengan ditetapkannya Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, yang memiliki sejarah yang cukup panjang mulai dari gagasan-gagasan asal mula Pancasila sampai dengan nama Pancasila itu sendiri. Dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa tentu saja dipilih dengan mencocokkannya dengan kepribadian bangsa Indonesia itu sendiri.


Sumber:
http://www.pusakaindonesia.org/inilah-5-kedudukan-pancasila-bagi-bangsa-indonesia/
http://kbbi.web.id/pandang